10 January 2011

SYEIKH MAULANA ISHAQ

Datang ke tanah Jawa pada tahun 1404 Masehi bersama dengan ayahnya (Syeh Maulana Ahmad Jumadil Qubro) dan saudaranya (Syeikh Maulana Malik Ibrahim). Syeh Maulana Ishaq pada awalnya datang di tanah Jawa menetap di Gresik. Kemudian ke Blambangan dan selanjutnya ke Pasai (Singapura) dan beliau wafat di sana. Beliau ahli dalam bidang pengobatan dan beliau sering menolong orang yang sakit hingga sembuh.

Pada saat kerajaan Blambangan diserang oleh wabah, sudah berbulan-bulan rakyat Blambangan dilanda suatu penyakit. Banyak rakyat yang terserang penyakit, bahkan sebagian dari mereka menemui ajalnya. Hampi setiap hari selalu ada saja rakyat Blambangan yang meninggal dunia karena wabah ini.

Dewi Sekardadu adalah putri dari raja Blambangan Prabu Menak Sembuyu ketika itu juga tidak luput dari wabah ini. Sudah berbulan bulan Dewi Sekardadu terserang wabah. Sudah banyak dukun, tabib yang datang untuk menyembuhkannya, namun Dewi Sekardadu belum sembuh juga. Kerajaan dirudung kesedian.

Karena melihat putrinya belum sembuh-sembuh dalam waktu yang cukup lama, kemudian Prabu Menak Sembuyu menyuruh patih Bajul Sengara untuk mengumumkan sebuah sayembara, yang isinya barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit sang Putri serta dapat mengusir wabah penyakit dari Kerajaan Blambangan, maka apabila dia laki-laki akan dijodohkan dengan Dewi Sekardadu, bila ia perempuan maka akan dijadikan saudara Dewi Sekardadu.

Setelah sayembara disebarkan sampai ke pelosok negeri, tidak satupun yang berani mengikuti sayembara itu. Sampailah berita sayembara itu pada seorang Brahmana Resi Kandabaya. Pada suatu hari Resi Kandabaya datang ke Kerajaan Blambangan untuk menghadap Prabu Menak Sembuyu. Resi Kandabaya mengatakan kepada Prabu Menak Sembuyu bahwa yang dapat menyembuhkan sang Putri Dewi Sekardadu dan mengusir wabah penyakit dari Kerajaan Blambangan adalah seorang pertapa yang bernama Maulana Ishaq yang berada di gunung Gresik.

Prabu Menak Sembuyu kemudian mengutus patih Bajul Sengara untuk menemui Syeh Maulana Ishaq guna meminta pertolongan untuk menyembuhkan sang Putri dan rakyat Blambangan. Maka berangkatlah patih Bajul Sengara yang diikuti oleh beberapa prajurit. Mereka melakukan perjalanan dengan berkuda untuk menuju Gunung Gresik.

Setelah melakukan perjalanan berkuda selama enam hari, sampailah kesepuluh prajurit berkuda yang dipimpin oleh patih Bajul Sengara di Gunung Gresik, dan menemui Syeh Maulana Ishaq.

“Apa maksud kisanak sekalian datang ke Gunung Gresik ini” tanya Syeh Maulana Ishaq

“Kami diutus oleh Prabu Menak Sembuyu raja Blambangan untuk menemui Syeh, beliau Prabu menak Sembuyu berkata bahwa Syeh yang dapat menyembuhkan penyakit junjungan kami Dewi Sekardadu putri Prabu Menak Sembuyu, dan Syeh pula yang sanggup mengusir wabah penyakit yang sekarang ini menyerang Blambangan “, jawab patih Bajul Sengara. “Apabila hal itu terlaksana atau berhasil, maka Syeh akan dijodohkan dengan Dewi Sekardadu oleh Prabu Menak Sembuyu, tetapi apabila Syeh gagal maka akan dihukum mati oleh Prabu Menak Sembuyu”, lanjut Bajul Sengara.

Mendengar hal tersebut, Syeh Maulana Ishaq terdiam sejenak, kemudian beliau berkata kepada tamunya 

“Agama Islam adalah agama yang selalu membantu orang yang memerlukan pertolongan, juga agama yang suka menghormati tamunya, apalagi yang datang dari jauh. Baiklah aku akan memenuhi permintaan Raja kamu sekalian, karena aku tidak sampai hati untuk mengecewakannya, tapi hal ini kulakukan bukan karena iming-iming yang akan dijodohkan dengan Dewi Sekardadu juga bukan karena aku takut untuk dihukum mati oleh raja kalian. Yang kulakukan adalah iklas semata tanpa mengharap imbalan jasa apapun. Nah Sekarang berangkatlah kisanak sekalian terlebih dahulu”

Patih Bajul Sengara kemudian mengajak prajuritnya untuk bergegas kembali ke Blambangan. Untuk sampai di Blambangan kembali merekapun menempuh perjalanan enam hari berkuda.

Ketika rombongan patih Bajul Sengara dan prajuritnya sampai di halaman kerajaan Blambangan, terkejutlah mereka, karena suasana kerajaan tampak meriah sekali. Setelah diselidiki ternyata Prabu Menak Sembuyu sedang merayakan hari ketujuh pernikahan putri Dewi Sekardadu dengan Syeh Maulana Ishaq.

Patih Bajul Sengara semakin terheran, mengenai keterangan yang telah disampaikan oleh para punggawa kerajaan yang ada di sana. Di dalam hatinya mana mungkin Syeh Maulana Ishaq telah sampai lebih dahulu, padahal rombongannya berangkat terlebih dahulu. Diapun segera masuk ke Istana untuk menghadap Prabu Menak Sembuyu.

Setelah patih dihadapan sang raja, raja bertanya, “Kemana saja kalian ini Bajul Sengara”

“Hamba baru datang dari Gunung Gresik Prabu” jelas Bajul Sengara

“Berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai ke Gunung Gresik” tanya Prabu Menak Sembuyu

“Enam hari Gusti Prabu, jadi kami dua belas hari berada di perjalanan, Gusti Prabu” jawab patih Bajul Sengara. “ Lalu apa sebenarnya yang telah terjadi disini Gusti Prabu”

“Sunguh sangat aneh” gumam Gusti Prabu “Pada hari keenam sejak kepergian kalian ke Gunung Gresik, Maulana Ishaq sudah datang ke istana ini. Dia telah berhasil menyembuhkan Dewi Sekardadu dan sekaligus telah mengusir wabah yang menyerang istana ini. Dan sesuai janjiku, maka kujodohkan dia dengan putriku Dewi Sekardadu, sekarang ini adalah perayaan hari ketujuh atas pernikahan Maulana Ishaq dengan putriku”

Patih Baju Sengara terperanjat mendengar apa yang dikatakan oleh sang raja, karena sewaktu di Gunung Gresik rombongannya disuruh berangkat terlebih dahulu oleh Syeh Maulana Ishaq, tetapi Syeh Maulana Ishaq yang sepertinya tidak membawa kuda atau hanya berjalan kaki, datang lebih dahulu dari rombongan mereka. Ini menunjukkan bahwa Syeh Maulana Ishaq bukan orang sembarangan, orang yang sangat tinggi ilmunya.

Segera patih menemui Syeh Maulana Ishaq karena dia masih belum percaya, jangan-jangan ada orang lain yang mengaku-ngaku sebagai Syeh Maulana Ishaq. Setelah melihat sendiri bahwa pria yang bersanding di pelaminan disamping Dewi Sekardadu adalah benar-benar Syeh Maulana Ishaq baru sang patih merasa yakin.

Sesungguhnya Syeh Maulana Ishaq mempunyai ilmu atau kharomah yang tinggi, bahwa dalam sekejap mata beliau dapat berpindah dari Gunung Gresik ke Blambangan. Hal ini adalah karena kuasa Allah, bila Allah SWT berkehendak untuk menjalankan seseorang ke tempat yang sangat jauh dalam waktu sekejap mata, maka tidak ada satu kekuatanpun di jagad raya ini yang akan mencegahnya. Maha Suci Allah atas segala kekuasaanNya.
Setelah pesta perkawinan selesai, banyak penduduk sekitar istana berdatangan untuk meminta pengobatan kepada Syeh Maulana Ishaq, Syeh Maulana Ishaq menolong mereka dengan sabar dan telaten, banyak dari mereka yang sakit telah disembuhkan. Lama-lama penduduk simpati pada ajaran yang telah dibawah oleh Syeh.

Seiring berjalannya waktu, semakin hari semakin banyak pengikut Syeh Maulana Ishaq, mereka dengan sukarela menjadi pengikut Syah Maulana Ishaq dan masuk agama Islam. Melihat kenyataan ini Prabu menak Sembuyu menjadi kawatir, apalagi Syeh Maulana Ishaq melarang memakan binatang yang tidak disembelih atas nama Allah, melarang makan binatang buas, babi dan beliau melarang menyembah berhala. Padahal hal tersebut adalah kesenangan dan sudah menjadi kebiasaan di Blambangan pada waktu itu.

Prabu Menak Sembuyu menyuruh patih Bajul Sengara untuk menyerang Syeh Maulana Ishaq dan pengikutnya. Berangkatlah patih Bajul Sengara beserta prajurit menuju kediaman Syeh Maulana Ishaq. Setelah rombongan prajurit patih Bajul Sengara sampai di depan kediaman Syeh Maulana Ishaq, beliau (Syeh Maulana Ishaq) berjalan dengan tenang menghampiri patih Bajul Sengara. Tidak ada satupun prajurit yang berusaha menghalangi atau menyerang Syeh Maulana Ishaq.

Seperti kita ketahui bahwa tujuan dakwah agama Islam adalah menyadarkan orang yang berbuat kesalahan dengan sikap dan budi pekerti yang halus yang diwujudkan dalam tindakan seharai-hari, bukan membasmi mereka yang salah. Maka untuk mencegah hal itu Syeh Maulana Ishaq berjanji akan meninggalkan Blambangan.

Mendengar hal ini para pengikut bertanya kepada Syeh Maulana Ishaq, “Jangan pergi Tuan, kalau Tuan pergi meninggalkan kami siapa yang akan membimbing kami mempelajari ajaran agama Islam, siapa yang akan membimbing kami menuju jalan yang benar, dan siapa yang akan memberi contoh kami budi pekerti yang halus”

“Jangan kawatir wahai saudaraku, kelak akan ada penggantiku setelah kepergianku, anakku yang ada di dalam kandungan istriku Dewi Sekardadu yang akan membimbing kalian”

Pembicaraan Syeh Maulana dengan pengikutnya ini memang terdengar oleh patih Bajul Sengara.

Sebelum meninggalkan Blambangan Syeh Maulana Ishaq pamit pada istrinya, “Istriku aku akan pergi meninggalkan Blambangan, bukan aku tidak sayang kepada engkau, akan tetapi demi kedamaian kita semua, dan demi mencegah pertumpahan darah diantara kita, maka relakan aku pergi meninggalkan Blambangan”.

Dewi Sekardadu melepas kepergian suaminya dengan hati lulu menangis, dan cucuran air mata yang membasahi pipinya.

Beberapa bulan setelah kepergian suaminya, Dewi Sekardadu melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan ganteng. Sesungguhnya Prabu Menak Sembuyu suka kepada bayi tersebut dan telah melupakan Syeh Maulana Ishaq, akan tetapi karena hasutan patih yang telah mendengar apa yang dikatakan Syeh Maulana Ishaq pada pengikutnya di saat akan meninggalkan Blambangan, juga pada waktu itu, Blambangan mulai diserang wabah kembali, patih tersebut mengatakan bahwa kelak anak ini akan membawa petaka di Blambangan. Patih Bajul Sengara mengatakan pada Prabu Menak Sembuyu bahwa wabah yang datang kembali ini ada hubungannya dengan lahirnya anak Dewi Sekardadu. Prabu Menak Sembuyu terhasut oleh perkataan Patih Najul Sengara, bayi yang baru lahir tersebut dimasukkan dalam peti mati dan dihanyutkan ke tengah samudra.

Dewi Sekardadu yang baru ditinggalkan suaminya, sekarang mendapatkan kenyataan harus berpisah dari anaknya yang baru dilahirkan, apalagi anak tersebut dihanyutkan ke tengah samudra. Ibu mana yang tidak sedih akan kenyataan ini. Semakin lama kesedihan yang dirasa menggerogoti jiwa dan kesehatannya, akhirnya Dewi Sekardadu meninggal dunia.



RUJUKAN :
  • Babad Tanah Jawi
  • Mantan Mufti Johor Sayyid `Alwî b. Tâhir b. `Abdallâh al-Haddâd (meninggal tahun 1962) juga meninggalkan tulisan yang berjudul Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh (Jakarta: Al-Maktab ad-Daimi, 1957). Ia menukil keterangan diantaranya dari Haji `Ali bin Khairuddin, dalam karyanya Ketrangan kedatangan bungsu (sic!) Arab ke tanah Jawi sangking Hadramaut.
  • Al-Jawahir al-Saniyyah oleh Sayyid Ali bin Abu Bakar Sakran
  • 'Umdat al-Talib oleh al-Dawudi
  • Syams al-Zahirah oleh Sayyid Abdul Rahman Al-Masyhur 
  • Menyingkap Misteri Pulau Besar oleh Ana Faqir

No comments: