Mar 16, 2011

SYEIKH MUHAMMAD ABDUL MALIK BIN MUHAMMAD ILYAS

Mursyid Sederhana dan Penyayang Santri Miskin
 
Purwokerto adalah ibukota kabupaten Banyumas, Jawa Tengah yang terletak di selatan Gunung Slamet, salah satu gunung berapi yang masih aktif di pulau Jawa. Purwokerto merupakan salah satu pusat perdagangan dan pendidikan di kawasan selatan Jawa Tengah.

Sementara kabupaten Banyumas sendiri merupakan sebuah kawasan kebudayaan yang memiliki ciri khas tertentu di antara keanekaragaman budaya Jawa yang disebut sebagai budaya Banyumasan. Ciri khas ini ditandai dengan kekhasan dialek bahasa, citra seni dan tipologi masyarakatnya.

Bentang alam wilayah banyumasan berupa dataran tinggi dan pegunungan serta lembah-lembah dengan bentangan sungai-sungai yang menjamin kelangsungan pertanian dengan irigasi tradisional. kondisi yang demikian membenarkan kenyataan kesuburan wilayah ini (gemah ripah loh jinawi).

Dulunya, kawasan ini adalah tempat penyingkiran para pengikut Pangeran Diponegoro setelah perlawanan mereka dipatahkan oleh Kompeni Belanda. Maka tidak aneh, bila hingga masa kini masih terdapat banyak sekali keluarga-keluarga yang memiliki silsilah hingga Pangeran Diponegoro dan para tokoh pengikutnya.

Keluarga-keluarga keturunan Pangeran Diponegoro dan tokoh-tokohnya yang telah menyingkir dari pusat kerajaan Matararam waktu itu, kemudian menurunkan para pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh ulama hingga saat ini. 

Salah satu dari sekian banyak tokoh ulama keturunan Pangeran Diponegoro di kawasan Banyumas ini adalah Syekh Abdul Malik bin Muhammad Ilyas, Mursyid Thariqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah dan Thariqoh Syadzaliyah di Jawa Tengah.

Silsilah dan Pendidikan
Sudah menjadi tradisi di kawasan Banyumasan kala itu, apabila ada seorang ibu hendak melahirkan, maka dihamparkanlah tikar di atas lantai sebagai tempat bersalin. Suatu saat ada seorang ibu yang telah mempersiapkan persalinannya sesuai tradisi tersebut, namun rupanya sang bayi tidak juga kunjung terlahir. Melihat hal ini, maka sang suami segera memerintahkan istrinya untuk pindah ke tempat tidur dan menjalani persalinan di atas ranjang saja. Tak berapa lama terlahirlah seorang bayi mungil yang kemudian dinamakan Muhammad Ash'ad, artinya Muhammad yang naik (dari tikar ke tempat tidur). Peristiwa ini terjadi di Kedung Paruk Purwokerto, pada hari Jum'at, tanggal 3 Rajab tahun 1294 H. (1881 M.) Nama lengkapnya adalah Muhammad Ash'ad bin Muhammad Ilyas. Kelak bayi mungil ini lebih dikenal sebagai Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk Purwokerto.

Beliau merupakan keturunan Pangeran Diponegoro berdasarkan ”Surat Kekancingan” (semacam surat pernyataan kelahiran) dari pustaka Kraton Yogyakarta dengan rincian Muhammad Ash’ad, Abdul Malik bin Muhammad Ilyas bin Raden Mas Haji Ali Dipowongso bin HPA. Diponegoro II bin HPA. Diponegoro I (Abdul Hamid) bin Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III Yogyakarta. Nama Abdul Malik diperoleh dari sang ayah ketika mengajaknya menunaikan ibadah haji bersama.

Sejak kecil, Abdul Malik memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya. Setelah belajar al-Qur'an kepada ayahnya, Abdul Malik diperintahkan untuk melanjutkan pendidikannya kepada Kyai Abu bakar bin Haji Yahya Ngasinan, Kebasen, Banyumas.

Selain itu, ia juga memperoleh pendidikan dan pengasuhan dari saudara-saudaranya yang berada di Sokaraja,sebuah kecamatan di sebelah timur Purwokerto. Di Sokaraja ini terdapat saudara Abdul Malik yang bernama Kyai Muhammad Affandi, seorang ulama sekaligus saudagar kaya raya. Memiliki beberapa kapal haji yang dipergunakan untuk perjalanan menuju Tanah Suci.

Ketika menginjak usia 18 tahun, Abdul Malik dikirim ke Tanah Suci untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai didiplin ilmu agama, seperti Tafsir, Ulumul Qur'an, Hadits, Fiqih, Tasawuf dan lain-lain. Pada tahun 1327 H. Abdul Malik pulang ke kampung halaman setelah kurang lebih 15 tahun belajar di Tanah Haram. Selanjutnya  ia berkhidmat kepada kedua orang tuanya yang sudah sepuh (lanjut usia). Lima tahun kemudian (1333 H.) ayahandanya (Muhammad Ilyas) meninggal dalam usia 170 tahun dan dimakamkan di Sokaraja.

Sepeninggal ayahnya, Abdul Malik muda berkeinginan melakukan perjalanan ke daerah-daerah sekitar Banyumas, seperti Semarang, Pekalongan, Yogyakarta dengan berjalan kaki. Perjalanan ini diakhiri tepat pada seratus hari wafatnya sang ayah. Abdul Malik kemudian tinggal dan menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Sejak saat ini, ia kemudian lebih dikenal sebagai Syeikh Abdul Malik Kedung Paruk.

Guru-Guru
Syeikh Abdul Malik mempunyai banyak guru, baik selama belajar di Tanah Air maupun di Tanah Suci. Di antara guru-gurunya adalah Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tirmisi al-Jawi, Sayyid Umar as-Syatha' dan Sayyid Muhammad Syatha', keduanya merupakan ulama besar Makkah dan Imam Masjidil Haram dan Sayyid Alwi Syihab bin Shalih bin Aqil bin Yahya.

Sebelum berangkat ke tanah Suci, Syeikh Abdul Malik sempat berguru kepada Kyai Muhammad Sholeh bin Umar Darat Semarang, Sayyid Habib Ahmad Fad'aq (seorang ulama besar yang berusia cukup panjang, wafat dalam usia 141 tahun), Habib 'Aththas Abu Bakar al-Atthas; Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, Surabaya; Sayyid Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas Bogor.

Sanad Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah diperolehnya secara langsung dari sang ayah, Syaikh Muhammad Ilyas; sedangkan sanad Thoriqah Sadzaliyah didapatkannya dari Sayyid Ahmad Nahrawi Al-Makki (Mekkah).

Selama bermukim di Makkah, Syeikh Abdul Malik diangkat oleh pemerintah Arab Saudi sebagai Wakil Mufti Madzhab Syafi'i, diberi kesempatan untuk mengajar berbagai ilmu agama termasuk, tafsir dan qira'ah sab'ah. Sempat menerima kehormatan berupa rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes.

Menurut beberapa santrinya, Syekh Abdul Malik sebenarnya tinggal di Makkah selama kurang lebih 35 tahun, tetapi tidak dalam suatu waktu. Di samping belajar di tanah Suci selama 15 tahun, ia juga seringkali membimbing jamaah haji Indonesia asal Banyumas, bekerjasama dengan Syeikh Mathar Makkah. Aktivitas ini dilakukan dalam waktu yang relatif lama, jadi sebenarnya, masa 35 tahun itu tidaklah mutlak.

Perjuangan Fisik
Adalah tidak benar, jika para ulama ahli tasawuf disebut sebagai para pemalas, bodoh, kumal dan mengabaikan urusan-urusan duniawi. Meski tidak berpakaian Necis, namun mereka senantiasa tanggap terhadap berbagai kejadian yang ada di sekitarnya. Ketika zaman bergolak dalam revolusi fisik untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa asing, para ulama ahli Thoriqoh senyatanya juga turut berjuang dalam satu tarikan nafas demi memerdekakan bangsanya.

Pada masa-masa sulit zaman penjajahan Belanda dan Jepang, Syeikh Abdul Malik senantiasa gigih berdakwah. Karena aktivitasnya ini, maka ia pun menjadi salah satu target penangkapan tentara-tentara kolonial. Mereka sangat khawatir pada pengaruh dakwahnya yang mempengaruhi rakyat Indonesia untuk memberontak terhadap penjajah. Menghadapi situasi seperti ini, ia justru meleburkan diri dalam laskar-laskar rakyat. Sebagaimana Pangeran Diponegoro, leluhurnya yang berbaur bersama rakyat untuk menentang penjajahan Belanda, maka ia pun senantiasa menyuntikkan semangat perjuangan terhadap para gerilyawan di perbukitan Gunung Slamet.

Pada masa Gestapu, Syeikh Abdul Malik juga sempat ditahan oleh PKI. Bersamanya, ditangkap pula Habib Hasyim al-Quthban Yogyakarta, ketika sedang bepergian menuju daerah Bumiayu Brebes untuk memberikan ilmu kekebalan atau kesaktian kepada para laskar pemuda Islam. Dalam tahanan ini, Habib Hasyim al-Quthban mengalami shock dan akhirnya meninggal, sedangkan Syekh Abdul Malik masih hidup dan akhirnya dibebaskan.

Kepribadian
Dalam hidupnya, Syeikh Abdul Malik memiliki dua amalan wirid utama dan sangat besar, yaitu membaca al-Qur’an dan Shalawat. Dikenal sebagai ulama yang mempunyai berkepribadian sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian akhlakul karimah. Maka amat wajarlah bila masyarakat Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.

Syeikh Abdul Malik adalah pribadi yang sangat sederhana, santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturrahim kepada murid-muridnya, terutama kepada mereka yang miskin atau sedang mengalami kesulitan hidup. Santri-santri yang biasa dikunjunginya ini, selain mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya seperti Ledug, Pliken, Sokaraja, dukuh waluh, Bojong, juga sanri-santri lain yang tinggal di tempat jauh.

Setiap hari Selasa pagi, dengan bersepeda, naik becak atau dokar, Syeikh Abdul Malik mengunjungi murid-muridnya untuk membagi-bagikan beras, uang dan terkadang pakaian, sambil mengingatkan kepada mereka untuk datang pada acara pengajian Selasanan. Acara ini merupakan  forum silaturrahim bagi para pengikut Thoriqah Naqsyabandiyah Kholidiyah Kedung paruk yang diisi dengan pengajian dan tawajjuhan.

Syeikh Abdul Malik juga dikenal memiliki hubungan baik dengan para ulama dan habaib, Bahkan dianggap sebagai guru bagi mereka, seperti KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Soleh bin Muhsin al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bafaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi (Brani, Probolinggo), dan lain-lain.

Termasuk di antara para ulama yang sering berkunjung ke kediaman Syeikh Abdul Malik ini adalah Syeikh Ma’shum (Lasem, Rembang) yang sering mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik sebagai tabarruk (meminta barakah) kepadanya. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi (Comal, Pemalang), KH Kholil (Sirampog, Brebes), KH Anshori  (Linggapura, Brebes), KH Nuh (Pageraji, Banyumas). Para ulama ini merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, namun tetap belajar ilmu al-Qur’an kepada Syeikh Muhammad Abdul Malik Kedung Paruk.

Sementara itu, murid-murid langsung dari Syeikh Abdul Malik di antaranya adalah KH Abdul Qadir, Kiai Sa’id, KH Muhammad Ilyas Noor (mursyid Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah), KH Sahlan (Pekalongan), Drs. Ali Abu Bakar Bashalah (Yogyakarta), KH Hisyam Zaini (Jakarta), Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan), KH Ma’shum (Purwokerto) dan lain-lain.

Selain, menularkan ilmunya kepada santri-santi yang kemudian menjadi ulama dan pemimpin umat, Syeikh Abdul Malik juga memiliki santri-santri dari berbagai kalangan, seperti Haji Hambali Kudus, seorang pedagang yang dermawan dan tidak pernah rugi dalam aktivitas dagangnya dan Kyai Abdul Hadi Klaten, seorang penjudi yang kemudian bertaubat dan menjadi hamba Allah yang shaleh dan gemar beribadah.

Keluarga
Syeikh Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas menikahi tiga orang istri, dua di antaranya dikaruniai keturunan. Istri pertamanya adalah Nyai Hajjah Warsiti binti Abu Bakar yang lebih dikenal dengan nama Mbah Johar. Seorang wanita terpandang, puteri gurunya, K Abu Bakar bin H Yahya Kelewedi Ngasinan, Kebasen. Istri pertama ini kemudian dicerai setelah dikaruniai seorang anak lelaki bernama Ahmad Busyairi (wafat tahun 1953, pada usia sekitar 30 tahun).

Ada sebuah cerita unik tentang putera pertamanya ini. Ahmad Busyairi adalah seorang pemuda yang meninggal dunia sebelum sempat menikah. Suatu hari Syeikh Abdul Malik berkata padanya, ”Nak, besok kamu menikah di surga saja ya?” Mendengar ayahnya bertutur demikian, muka Busyairi terlihat ceria dan hatinya merasa sangat gembira. Beberapa waktu kemudian, ia meninggal sebelum berkesempatan menikah.

Istri kedua Syeikh Abdul Malik adalah Mbah Mrenek, seorang janda kaya raya dari desa Mrenek, Maos Cilacap. Pernikahan ini tidak dikaruniai anak. Istimewanya, suatu hari Syeikh Abdul Malik hendak menceraikannya, namun Mbah Mrenek berkata, ”Pak Kyai, meskipun Panjenengan (Anda) tidak lagi menyukai saya, tapi tolong jangan ceraikan saya. Yang penting saya diakui menjadi istri Anda, dunia dan akhirat.” Mendengar permintaan ini, Syeikh Abdul Malik pun tidak jadi menceraikannya.

Sedangkan istri ketiga-nya adalah Nyai Hj. Siti Khasanah, seorang wanita cantik dan shalihah, tetangganya sendiri. Pernikahan ini, dikaruniai seorang anak perempuan bernama Hj. Siti Khairiyyah yang wafat empat tahun sepeninggal Syekh Abdul Malik. Dari puterinya inilah nasab Syeikh Abdul Malik diteruskan.

Pesan dan Berpulang
Salah seorang cucu Syeikh Abdul Malik mengatakan, ada tiga pesan dan wasiat yang disampaikan Beliau kepada cucu-cucunya. Pertama, jangan meninggalkan shalat. Tegakkan shalat sebagaimana telah  dicontohkan Rasululah SAW. Lakukan shalat fardhu pada waktunya secara berjama'ah. Perbanyak shalat sunnah serta ajarkan kepada para generasi penerus sedini mungkin.

Kedua, jangan tinggalkan membaca al-Qur'an. Baca dan pelajari  setiap hari serta ajarkan sendiri sedini mungkin kepada anak-anak. Sebarkan al-Qur'an di mana pun berada. Jadikan sebagai pedoman hidup dan lantunkan dengan suara merdu. Hormati orang-orang yang hafal al-Qur'an dan qari'-qari'ah serta muliakan tempat-tempat pelestariannya.
  
Ketiga, jangan tinggalkan membaca shalawat, baca dan amalkan setiap hari. Contoh dan teladani kehidupan Rasulullah SAW serta tegakkanlah sunnah-sunnahnya. Sebarkan bacaan shalawat Rasulullah, selamatkan dan sebarluaskan ajarannya.

Pada hari Kamis, 21 Jumadil Akhir 1400 H. yang bertepatan dengan 17 April 1980 M. sekitar pukul 18.30 WIB (malam Jum’at), Syekh Abdul Malik meminta izin kepada istrinya untuk melakukan shalat Isya' dan masuk ke dalam kamar khalwat-nya. Tiga puluh menit kemudian, salah seorang cucunya mengetuk kamar tersebut, namun tidak ada jawaban. Setelah pintu dibuka, rupanya sang mursyid telah berbaring dengan posisi kepala di utara dan kaki di selatan, tanpa sehela nafas pun berhembus.  Syeikh Abdul Malik kemudian dimakamkan pada hari Jum’at, selepas shalat Ashar di belakang Masjid Bahaul Haq wa Dhiyauddin Kedung Paruk, Purwokerto

Mar 8, 2011

KH MUHAMMAD ISHOMUDDIN HADZIK - GUS ISHOM

Muhammad Ishomuddin Hadzik atau yang biasa di panggil Gus Ishom merupakan cucu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dari pasangan Chodidjah Hasyim–Muhammad Hadzik Mahbub. Lahir di Kediri, 18 Juli 1965 M dan selanjutnya sejak kecil akrab dipanggil Gus Ishom.

Sejak kecil, Ishom telah diperkenalkan kepada kehidupan pesantren yang sarat dengan pendidikan agama. Pada usia yang tergolong anak-anak, Ishom telah menunjukkan ketertarikan kepada ilmu-ilmu agama. Pada usia 7 tahun, setiap bulan Ramadhan, Ishom kecil selalu melakukan tarawih dimasjid Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam.

Di luar bulan Ramadhan, Ishom kecil juga shalat maghrib berjamaah dimasjid Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam. Pada saat itu, shalat jamaah sering dipimpin oleh KH. Muhammad Idris Kamali, menantu Hadratus SSyeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Setiap selesai berdoa’ tak lupa kyai Idris demikian panggilan sehari-hari, selalu meniup kening Ishom kecil sambil diiringi dengan doa barakah.

Pada waktu bersekolah di SDN Cukir I, sosok Ishom kecil telah menonjol di antara teman-temannya. Dari segi pelajaran, nilai yang didapat selalu diatas teman-temannya. Pada saat memasuki bangku sekolah lanjutan, Ishom yang telah beranjak remaja, memilih pagi hari untuk bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng dan siang harinya di SMP A. Wahid Hasyim.

Setelah lulus Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Ishom memutuskan untuk menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Di bawah bimbingan langsung KH. Mahrus Aly, Gus Ishom yang telah beranjak remaja semakin mendapat bekal ilmu agama dan kitab kuning semaikin banyak.

Ketertarikannya kepada kitab kuning ditambah riyadhah yang kuat, membuatnya semakin lancar dalam menuntut ilmu. Otak yang cerdas, pikiran yang cemerlang menjadikannya mudah dalam memahami tentang suatu hal. Gus Ishom menghabiskan waktu 11 tahun menimba ilmu di pondok pesantrten Lirboyo Kediri, termasuk ketika menjadi santri kilat Ramadhan diberbagai pesantren lainnya.

Tahun 1991, Gus Ishom pulang kembali ke Tebuireng untuk mengamalkan apa yang telah dipelajari selama nyantri di Pondok Pesantren Liboyo Kediri serta pesantren lainnya. Sikap rendah hati, alim, tidak neko-neko membuat Gus Ishom banyak mendapat simpati masyarakat sekitar walaupun baru pulang dari pondok pesantren.

Kealimannya dalam hal kitab kuning, membuat Gus Ishom bersentuhan langsung dengan karya sang kakek Hadratus Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Beberapa kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari diterbitkan dan dibacanya pada bulan Ramadhan di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang diikuti oleh ribuan peserta sehingga kitab-kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dikenal oleh masyarakat luas.

Selain telah menerbitkan sebagian kitab karya kakeknya, Gus Ishom juga menulis beberapa kitab yaitu : 1. Audhohul Bayan Fi Ma Yata’allq Bi Wadhoifir Ramadhan. 2. Miftahul Falah Fi Ahaditsin Nikah. 3. Irsyadul Mukminin.

Tidak hanya dalam urusan ilmu agama, gus Ishom cukup memahami tentang masalah sosial, budaya serta politik. Cukup sering tulisannya menghiasi berbagai halaman media massa semisal harian Surya, Jawa Pos, Republika dan lain-lain. Pengalaman menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jombang, merupakan bukti ketajamannya di dunia kiprah politiknya.

Selain menulis kitab dan beberapa artikel di media massa, Gus Ishom juga merupakan seorang muballigh yang handal. Lisan yang fasih, bahasa yang lugas serta ilmu yang tinggi, membuat setiap ceramah yang disampaikan olehnya selalu menarik untuk disimak. Tidak banyak orang bisa menulis kitab, artikel, cerpen dan berpidato. Gus Ishom merupakan sosok serba bisa yang diharapkan menjadi kader NU yang mumpuni.

Pada akhir tahun 2002, ketika bulan ramadhan gus Ishom mengalami sakit pada bagian betis yang diduga oleh dokter sebagai gejala asam urat akut. Berbagai pengobatan dilakukan, akan tetapi tidak membawa hasil. Akhirnya ketika sakit yang semakin parah, gus Ishom dirujuk ke Surabaya dan disanalah diketahui bahwa gus Ishom menderita kanker yang tergolong langka dan telah mencapai stadium III. Pengobatan melalui kemoterapi dan berbagai upaya alternatif telah dilakukan. Akan tetapi Sang Maha Kuasa, Allah Robbul ‘Alamiin memiliki kehendak lain.

Seperti terkena hallintar, pandangan mata ini berkaca-kaca, seakan tak percaya, tatkla mendengar  wafatnya KH Ishomuddin Hadizq (Gus Ishom). Hari sabtu, 26 Juli 2003, tepat pukul 06.30 WIB, beliau dipanggil ke pangkuan Sang Ilahi. Sosok kiai muda yang begitu anggun mempesona. Seorang “darah biru” keturunan Kiai Moh Hasyim Asy’ari (pendiri dan Ra’is Akbar NU) dari putrinya Hj Khodijah.

Gus Ishom yang lahir pada 18 Juli 1965 (genap berusia 37) adalah salah satu dari cucu KH Hasyim yang mewarisi kewibawaaan, keilmuan, kedewasaan, kematangan, kesabaran, keanggunan, dan keajaiban Sang Kakek. Gaya bicaranya yang “khas”, penuh humor, perilaku yang tawadlu’, ikhlas, penuh senyum (mencerminkan kedalaman spritual dan kekuatan pribadinya), selalu dinantikan para santri, lebih-lebih saat Ramadlan tiba. Seluruh halaman Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dijubeli oleh ribuan santri, baik yang berada di Pondok Pesantren Tebuireng sendiri ataupun pondok sekitarnya, Seblak, Pacul Gowang, Khuffadz, Mu’allimat-Darul Falah Cukir, dan lain-lain. Semuanya ingin mendengarkan wejangan-wejangan Gus Ishom,menyimak, merenungkan, menghayati dan mengamalkannya.

Sumber : Website Rasmi Nahdlatul Ulama (NU)

Feb 28, 2011

KH ABDUL WAHID HASYIM


KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra kelima dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara ini lahir pada hari Jumat legi, Rabiul Awwal 1333 H, bertepatan dengan 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.

Wahid Hasyim adalah salah seorang dari sepuluh keturunan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu betemu pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja Kerajaan MAtaram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng.

Kesepuluh putra KH. Hasyim Asy’ari itu adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Izzah, Abdul Wahid, A. Khaliq, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah, dan Muhammad Yusuf. Sementara itu, dengan Nyai Masrurah KH. Hasyim Asy’ari dikaruniai empat putera, yakni Abdul Kadir, Fatimah, Khodijah dan Ya’kub.
Mondok Hanya Beberapa Hari

Abdul Wahid mempunyai otak sangat cerdas. Pada usia kanak-kanak ia sudah pandai membaca al-Qur’an, dan bahkan sudah khatam al-Qur’an ketika masih berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Abdul Wahid juga belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, setamat dari Madrasah, ia sudah membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak-anak seusianya.

Sebagai anak tokoh, Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Ia lebih banyak belajar secara otodidak. Selain belajar di Madrasah, ia juga banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Abdul Wahid mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala, selain menguasai maknanya dengan baik.

Pada usia 13 tahun ia dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan ia pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi ia di pesantren ini mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan Abdul Wahid hanyalah keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya. Soal ilmu, demikian mungkin ia berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara apa saja. Tapi soal memperoleh berkah, adalah masalah lain, harus berhubungan dengan kyai. Inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama dari Abdul Wahid ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, Abdul Wahid tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ayahnya pilihan tinggal di rumah dibiarkan saja, toh Abdul Wahid bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar. Benar juga, selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak. Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.
Menerapkan Sistem Madrasah ke Dalam Sistem Pesantren

Pada 1916, KH. Ma’sum, menantu KH. Hasyim Asy’ari, dengan dukungan Wahid Hasyim, memasukkan sistem Madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren. Ada tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan siffir awwal dan siffir tsani, yaitu masa persiapan untuk memasuki masa lima tahun jenjang berikutnya. Pada siffir awwal dan siffir tsani diajarkan khusus bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuan Islam. Pada tahun 1919, kurikulum madrasah tersebut ditambah dengan pendidikan umum, seperti bahasa Indonesia (Melayu), berhitung dan Ilmu Bumi. Pada 1926, KH. Mauhammad Ilyas memasukkan pelajaran bahasa Belanda dan sejarah ke dalam kurikulum madrasah atas persetujuan KH. Hasyim Asy’ari.

Pembaharuan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan KH. Hasyim Asy’ari, berikut murid dan puteranya, bukan tanpa halangan. Pembaharuan pendidikan yang digagasnya menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari masyarakat dan kalangan pesantren, sehingga banyak juga orang tua santri memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain, karena dengan pembaharuan tersebut Pesantren Tebuireng dipandang sudah terlalu modern. Reaksi tersebut tidak menyurutkan proses pembaharuan Pesantren Tebuireng. Hal tersebut terus berlangsung dan dilanjutkan oleh Wahid Hasyim dengan mendirikan madrasah modern di lingkungan pesantren.
Berangkat ke Mekkah

Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18 tahun, ia dikirim ke Mekkah, di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Mekkah ditemani oleh saudara sepupunya, Muhammad Ilyas, yang kelak menjadi Menteri Agama. Muhammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam membimbing Abdul Wahid sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Muhammad Ilyas dikenal fasih dalam bahasa Arab, dan dialah yang mengajari Abdul Wahid bahasa Arab. Di tanah suci ia belajar selama dua tahun.

Dengan pengalaman pendidikan tersebut, tampak ia sebagai sosok yang memiliki bakat intelektual yang matang. Ia menguasai tiga bahasa asing, yaitu bahasa Arab, Inggris dan Belanda. Dengan bekal kemampuan tiga bahasa tersebut, Wahid Hasyim dapat mempelajari berbagai buku dari tiga bahasa tersebut. Otodidak yang dilakukan Wahid Hasyim memberikan pengaruh signifikan bagi praktik dan kiprahnya dalam pendidikan dan pengajaran, khususnya di pondok pesantren termasuk juga dalam politik.

Setelah kembali dari Mekkah, Wahid Hasyim merasa perlu mengamalkan ilmunya dengan melakukan pembaharuan, baik di bidang sosial, keagamaan, pendidikan dan politik. Pada usia 24 tahun (1938), Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama kawan-kawannya, ia gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaharuan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah. Baginya pembaharuan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah.
Menikah

Pada usia 25 tahun, Abdul Wahid mempersunting gadis bernama Solichah, putri KH. Bisri Syansuri, yang pada waktu itu baru berusia 15 tahun. Pasangan ini dikarunai enam anak putra, yaitu Abdurrahman ad-Dakhil (mantan Presiden RI), Aisyah (Ketua Umum PP Muslimat NU, 1995-2000), Shalahudin al-Ayyubi (Insinyur lulusan ITB/Pengasuh PP. Tebuireng Jombang, sesudah KH. Yusuf Hasyim), Umar (dokter lulusan UI), Khadijah dan Hasyim.
Empat Tahun Sebelum Masuk Organisasi

Jangan ada orang yang memasuki suatu organisasi atau perhimpunan atas dasar kesadaran kritisnya. Pada umumnya orang yang aktif dalam sebuah organisasi atas dasar tradisi mengikuti jejak kakek, ayah, atau keluarga lain, karena ikut-ikutan atau karena semangat primordial. Tidak terkecuali bagi kebanyakan warga NU. Sudah lazim orang masuk NU karena keturunan; ayahnya aktif di NU, maka secara otomatis pula anaknya masuk dan menjadi aktivis NU. Kelaziman seperti itu agaknya tidak berlaku bagi Wahid Hasyim. Proses ke-NU-an Abdul Wahid Hasyim berlangsung dalam waktu yang cukup lama, setelah melakukan perenungan mendalam. Ia menggunakan kesadaran kritis untuk menentukan pilihan organisasi mana yang akan dimasuki.

Waktu itu April 1934, sepulang dari Mekkah, banyak permintaan dari kawan-kawannya agar Abdul Wahid Hasyim aktif dihimpunan atau organisasi yang dipimpinnya. Tawaran juga datang dari Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun-tahun itu di tanah air banyak berkembang perkumpulan atau organisasi pergerakan. Baik yang bercorak keagamaan maupun nasionalis. Setiap perkumpulan berusaha memperkuat basis organisasinya dengan merekrut sebanyak mungkin anggota dari tokoh-tokoh berpengaruh. Wajar saja jika kedatangan Wahid Hasyim ke tanah air disambut penuh antusias para pemimpin perhimpunan dan diajak bergabung dalam perhimpunannya. Ternyata tidak satupun tawaran itu yang diterima, termasuk tawaran dari NU.

Apa yang terjadi dalam pergulatan pemikiran Abdul Wahid Hasyim, sehingga ia tidak kenal secara cepat menentukan pilihan untuk bergabung di dalam satu perkumpulan itu? Waktu itu memang ada dua alternatif di benak Abdul Wahid Hasyim. Kemungkinan pertama, ia menerima tawaran dan masuk dalam salah satu perkumpulan atau partai yang ada. Dan kemungkinan kedua, mendirikan perhimpunan atau partai sendiri.

Di mata Abdul Wahid Hasyim perhimpunan atau partai yang berkembang waktu itu tidak ada yang memuaskan. Itulah yang menyebabkan ia ragu kalau harus masuk dan aktif di partai. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap perhimpunan. Menurut penilaian Abdul Wahid Hasyim, partai A kurang radikal, partai B kurang berpengaruh, partai C kurang memiliki kaum terpelajar, dan partai D pimpinannya dinilai tidak jujur.

”di mata saya, ada seribu satu macam kekurangan yang ada pada setiap partai,” tegas Abdul Wahid Hasyim ketika berceramah di depan pemuda yang bergabung dalam organisasi Gerakan Pendidikan Politik Muslim Indonesia.

Setelah beberapa lama melakukan pergulatan pemikiran Wahid Hasyim akhirnya menjatuhkan pilihannya ke NU. Meskipun belum sesuai dengan keinginannya, tapi dianggap NU memiliki kelebihan dibanding yang lain. Selama ini organisasi-organisasi dalam waktu yang pendek tidak mampu untuk menyebar keseluruh daerah. Berbeda dengan NU dalam waktu yang cukup singkat sudah menyebar hingga 60% di seluruh wilayah di Indonesia. Inilah yang dianggap oleh Wahid Hasyim kelebihan yang dimiliki oleh NU.
Pokok Pemikirannya

Sebagai seorang santri pendidik agama, fokus utama pemikiran Wahid Hasyim adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam. Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut Wahid Hasyim, dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren. Dari sini dapat dipahami, bahwa kualitas manusia muslim sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas jasmani, rohani dan akal. Kesehatan jasmani dibuktikan dengan tiadanya gangguan fisik ketika berkatifitas. Sedangkan kesehatan rohani dibuktikan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Disamping sehat jasmani dan rohani, manusia muslim harus memiliki kualitas nalar (akal) yang senantiasa diasah sedemikian rupa sehingga mampu memberikan solusi yang tepat, adil dan sesuai dengan ajaran Islam.

Mendudukkan para santri dalam posisi yang sejajar, atau bahkan bila mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia muda. Ia tidak ingin melihat santri berkedudukan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah secara langsung membina pondok pesantren asuhannya ayahnya.

Pertama-tama ia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya. Ternyata uji coba tersebut dinilai berhasil. Karena itu ia kenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di dunia pesantren.

Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga metode pengajarannya.

Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, ia membuat perencanaan yang matang. Ia tidak ingin gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk itu, ia mengadakan langkah-langkah sebagai berikut:

* Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya
* Menggambarkan cara mencapai tujuan itu
* Memberikan keyakinan dan cara, bahwa dengan sungguh-sungguh tujuan dapat dicapai.

Pada awalnya, tujuan pendidikan Islam khususnya di lingkungan pesantren lebih berkosentrasi pada urusan ukhrawiyah (akhirat), nyaris terlepas dari urusan duniawiyah (dunia). Dengan seperti itu, pesantren didominasi oleh mata ajaran yang berkaitan dengan fiqh, tasawuf, ritual-ritual sakral dan sebagainya.

Meski tidak pernah mengenyam pedidikan modern, wawasan berfikir Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Wawasan ini kemudian diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan pendidikan. Berkembangnya pendidikan madrasah di Indonesia di awal abad ke-20, merupakan wujud dari upaya yang dilakukan oleh cendikiawan muslim, termasuk Wahid Hasyim, yang melihat bahwa lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam beberapa hal tidak lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Apa yang dilakukan oleh Wahid Hasyim adalah merupakan inovasi baru bagi kalangan pesantren. Pada saat itu, pelajaran umum masih dianggap tabu bagi kalangan pesantren karena identik dengan penjajah. Kebencian pesantren terhadap penjajah membuat pesantren mengharamkan semua yang berkaitan dengannya, seperti halnya memakai pantolan, dasi dan topi, dan dalam konteks luas pengetahuan umum.

Dalam metode pengajaran, sekembalinya dari Mekkah untuk belajar, Wahid Hasyim mengusulkan perubahan metode pengajaran kepada ayahnya. Usulan itu antara lain agar sistem bandongan diganti dengan sistem tutorial yang sistematis, dengan tujuan untuk mengembangkan dalam kelas yang menggunakan metode tersebut santri datang hanya mendengar, menulis catatan, dan menghafal mata pelajaran yang telah diberikan, tidak ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berdikusi. Secara singkat, menurut Wahid Hasyim, metode bandongan akan menciptakan kepastian dalam diri santri.

Perubahan metode pengajaran diimbangi pula dengan mendirikan perpustakaan. Hal ini merupakan kemajuan luar biasa yang terjadi pada pesantren ketika itu. Dengan hal tersebut Wahid Hasyim mengharapkan terjadinya proses belajar mengajar yang dialogis. Dimana posisi guru ditempatkan bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Pendapat guru bukanlah suatu kebenaran mutlak sehingga pendapatnya bisa dipertanyakan bahkan dibantah oleh santri (murid). Proses belajar mengajar berorientasi pada murid, sehingga potensi yang dimiliki akan terwujud dan ia akan menjadi dirinya sendiri.
Kiprah Sosial Kemasyarakatan dan Kenegaraan

Selain melakukan perubahan-perubahan tersebut Wahid Hasyim juga menganjurkan kepada para santri untuk belajar dan aktif dalam berorganisasi. Pada 1936 ia mendirikan IKPI (Ikatan Pelajar Islam). Pendirian organisasi ini bertujuan untuk mengorganisasi para pemuda yang secara langsung ia sendiri menjadi pemimpinnya. Usaha ikatan ini antara lain mendirikan taman baca.

Pada tahun 1938 Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU. Pada tahun ini Wahid Hasyim ditunjuk sebagai sekretaris pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemmudian untuk selanjutnya Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini karirnya terus meningkat sampai Ma’arif NU pada tahun 1938. Setelah NU berubah menjadi partai politik, ia pun dipilih sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950.

Di kalangan pesantren, Nahdlatul Ulama mencoba ikut memasuki trace baru bersama-sama organisasi sosial modern lainnya, sepeti Muhammadiyah, NU juga membentuk sebuah federasi politik bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) lebih banyak di dorong oleh rasa bersalah umat Islam setelah melihat konsolidasi politik kaum nasionalis begitu kuat. Pada tahun 1939, ketika MIAI mengadakan konferensi, Wahid Hasyim terpilih sebagai ketua. Setahun kemudian ia mengundurkan diri.

Wahid Hasyim juga mempelopori berdirinya Badan Propaganda Islam (BPI) yang anggota-anggotanya dikader untuk terampil dan mahir berpidato di hadapan umum. Selain itu, Wahid Hasyim juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam. Tahun 1944 ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhnya ditangani oleh KH. A Kahar Mudzakir. Tahun berikutnya, 1945, Wahid Hasyim aktif dalam dunia politik dan memulai karir sebagai ketua II Majelis Syura (Dewan Partai Masyumi). Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri. Sedangkan ketua I dan ketua II masing-masing Ki Bagus Hadikusumo dan Mr. Kasman Singodimejo.

Pada tanggal 20 Desember 1949 KH. Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama dalam kabinet Hatta. Sebelumnya, yaitu sebelum penyerahan kedaulatan, ia menjadi Menteri Negara. Pada periode kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman, Wahid Hasyim tetap memegang jabatan Menteri Agama.

Dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir pada tahun 1946. Pada tahun ini juga, ketika KNIP dibentuk, KH. A Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP.

Selama menjadi Menteri Agama, usahanya antara lain: 
[1] Mendirikan Jam’iyah al-Qurra’ wa al-Huffazh (Organisasi Qari dan Penghafal al-Qur’an) di Jakarta; 
[2] Menetapkan tugas kewajiban Kementerian Agama melalui Peraturan Pemerintah no. 8 tahun 1950; 
[3] Merumuskan dasar-dasar peraturan Perjalanan Haji Indonesia; dan 
[4] Menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam kementerian agama.

Pada tahun 1952 KH. Abdul Wahid Hasyim memprakarsai berdirinya Liga Muslimin Indonesia, suatu badan federasi yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Darul Dakwah wa al-Irsyad. Susunan pengurusnya adalah KH. A Wahid Hasyim sebagai ketua, Abikusno Cokrosuyoso sebagai wakil ketua I, dan H. Sirajuddin Abbas sebagai wakil ketua II.
Sebagai Ketua Umum PBNU

Ketika Muktamar ke 19 di Palembang mencalonkannya sebagai Ketua Umum, ia menolaknya, dan mengusulkan agar KH. Masykur menempati jabatan sebagai Ketua Umum. Kemudian atas penolakan KH. A Wahid Hasyim untuk menduduki jabatan Ketua Umum, maka terpilihlah KH. Masykur menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Namun berhubung KH. Masykur diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Ali Arifin, maka NU menonaktifkan KH. Masykur selaku ketua umum, dan dengan demikian maka Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Ketua Umum.

Disamping sebagai Ketua Umum PBNU, KH. A Wahid Hasyim menjabat Shumubucho (Kepala Jawatan Agama Pusat) yang merupakan kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa salah langkah menghadapi umat Islam. Awalnya Shumubucho adalah merupakan kompensasi yang diberikan kepada KH. Hasyim Asy’ari, mengingat usianya yang sudah uzur dan ia harus mengasuh pesanten sehingga tidak mungkin jika harus bolak-balik Jakarta-Jombang. Karena kondisi ini, ia mengusulkan agar tugas sebagai Shumubucho diserahkan kepada KH. Abdul Wahid Hasyim, puteranya.
Tokoh Muda BPUPKI

Karir KH. Abdul Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang. Diantaranya ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal dengan BPUPKI. Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bintoro dari 62 orang yang ada. Waktu itu Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun.

Sebagai anggota BPKI yang berpengaruh, ia terpilih sebagai seorang dari sembilan anggota sub-komite BPKI yang bertugas merumuskan rancangan preambule UUD negara Republik Indonesia yang akan segera diproklamasikan.
Musibah di Cimindi

Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahhid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, dengan ditemani seorang sopir dari harian pemandangan, Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslim, dan putra sulungnya, Abdurrahman ad-Dakhil. KH. Abdul Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto.

Daerah sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan dan jalan menjadi licin. Pada waktu itu lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi KH. Abdul Wahid Hasyim selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Saat terjadi benturan, KH. A Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. KH. Abdul Wahid Hasyim terluka bagian kening, mata serta pipi dan bagian lehernya. Sementara sang sopir dan Abdurrahman tidak cidera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula.

Lokasi kejadian kecelakaan itu memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pukul 16.00 datang mobil ambulan untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.
Ditetapkan Sebagai Pahlawan

Berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya terdorong oleh taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rasa cinta tanah air dan bangsa, telah memimpin suatu kegiatan yang teratur guna mencapai kemerdekaan nusa dan bangsa.

Biografi singkat KH. Abdul Wahid Hasyim disarikan dari buku ”99 Kiai Kharismatik Indonesia” di tulis oleh KH. A. Aziz Masyhuri, terbitan Kutub, Yogyakarta. 
 

Feb 22, 2011

TAUBAT SI JEMAAH TABLIGH (12) - Mengumpat Itu Haram?

  PERINGATAN !!!

1.      Kami tidak menghalang orang-Orang Tabligh yang ingin berdakwah dan menghidupkan Sunnah Nabi saw, Mengajak mengerjakan Solah dan sebagainya.

2.      Tetapi, kami menghalang berkata-kata Agama di dalam Keadaan Jahil, dan berkata-kata Agama itu bersumberkan dari mulut-mulut orang lama Tabligh (Eldest) yang tiada bersumberkan dari mana-mana Kitab Muktabar.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

DI BAWAH INI ADALAH FAHAMAN TAUHID SAYA SEMASA BERGERAK SEBAGAI KARKUN DALAM DIDIKAN  GERAKAN TABLIGH DI MALAYSIA

D. TAUBAT YANG KE-12
(Mengumpat Itu Haram?)


1. Pada ketika dahulu semasa aku bergerak di dalam usaha Tabligh, aku telah berkata seperti begini:

Contoh 1

- Tuan-tuan, Allah Taala ni bagi pada kita, dua biji mata. Satu biji mata adalah untuk lihat kebaikan orang. Dan, satu lagi biji mata untuk lihat keburukan diri sendiri. Jadi, tuan-tuan semasa kita keluar ni jangan tegur-tegur kesilapan orang lain.

2. Daripada kata-kata ku di atas, apa yang difahami di waktu dahulu adalah sebegini.

-          Di dalam Tabligh, kita jangan suka mencari-cari kesalahan orang. Jika ada kesilapan, buat-buat tidak tahu tentangnya. Kesilapan kita lebih banyak dari kesilapan orang lain.

Maafkan aku wahai sahabat-sahabatku kerana menyampaikan sesuatu yang Salah kepada kamu semua.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

L. PENERANGAN TAUBAT YANG KE DUA BELAS

1.      Ketahuilah oleh Mu! Sifat tidak mengendahkan sesuatu kesalahan itu telah mengheret seseorang itu membuat sesuatu kemungkaran yang lain pula, dan kita tidak merasakan langsung bahawa kita juga telah tercebur ke dalam suatu kesalahan yang lain.

2.      Yaitu, redha akan maksiat dengan cara tidak menegurnya walaupun mampu mencegah dengan jalan menegur.

3.      Sebenarnya apa yang berlaku, bukanlah kerja mencari-cari kesalahan karkun-karkun Tabligh. Tetapi, kesalahan itu terpampang di hadapan mata dan didengar oleh telinga dari bayan-bayan mereka di Majlis Umum.

4.      Tidak perlu dicari dan diselidiki lagi, semuanya terbentang lagi terhidang, malah memang itulah yang dihidangkan sebagai satu hidangan untuk ummat Islam menikmati kesalahan itu bersama-sama.

5.      Sila fahamilah akan perkara yang kami nyatakan ini.

6.      Di atas apa jua keadaan, segala kesalahan yang sebegitu terang lagi terpampang dan terhidang, jika kita tidak mempunyai ilmu, masih lagi tidak nampak kesalahannya. Malah, sehingga ada yang berkata,

“Mana salahnya???”

7.      Beginilah keadaan jahilnya ummat hari ini tentang ilmu agama. Di dalam keadaan begitu pun, masih ada yang mengaku sebagai seorang yang ‘Amat Mahir dan Pakar di dalam Ilmu Agama.’ Inilah yang di katakan ‘Musibah Di Dalam Agama’ atau ‘Fitnah Kepada Agama.’ 

8.      Aku berlindung dengan Allah daripada kejahatan orang-orang yang jahil tentang Ilmu Agama!!!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

9.      Ada juga di antara mereka (orang-orang Tabligh) mengatakan,

“Kita jangan menegur karkun yang lain kerana mereka niat nak belajar buat dakwah. Pada suatu masa dahulu sewaktu Bilal ra tersalah azan, para Sahabat ra memberitahu perkara ini kepada Nabi saw. Dan, Nabi saw memaafkan Bilal ra kerana tersalah cakap.”

10.  Sila nyatakan Ayat Al-Quran dan Hadis yang menjelaskan perkara-perkara ini secara tepat, dari Kitab apa, karangan siapa, halaman dan juzu’ berapa, syarikat percetakan dan tahun percetakannya. Jika kata-kata di atas tidak berdasarkan mana-mana sumber atau Kitab, maka ia merupakan pendustaan oleh orang-orang Tabligh di atas Kalimah “Dakwah Nabi saw.”

11.  Maka, sebagai kesan yang buruk daripada perkara ini,

a.       Orang-orang Tabligh tidak lagi menegur sahabat-sahabat seangkatan mereka jika ada di antara mereka yang membuat kesalahan, lebih-lebih lagi di dalam Masalah Fiqh atau Masalah Ilmu Tauhid.

b.      Malah, yang lebih parahnya. Jika ada di antara ustaz-ustaz yang menegur mereka di atas kesalahan mereka, mereka mula melabelkan ustaz-ustaz yang menegur itu sebagai, “Manusia yang suka mencari-mencari kesalahan dan keburukan orang lain.”

12.  Dan, dari kerana inilah, orang-orang Tabligh ini sudah mula keras hatinya untuk menerima teguran dan nasihat daripada sesiapa sahaja.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

13.  Ketahuilah oleh mu wahai saudara dan saudari pembaca sekalian! Sesungguhnya apabila seseorang Ustaz menegur kita tatkala kita melakukan sesuatu kesalahan, maka itu merupakan kasih sayang dan tanggungjawab seseorang ustaz itu.

14.  Jika satu orang Ustaz membiarkan kesalahan kita. Maka, kita yang jahil ini terus melakukan kesalahan itu sampai mati, dan kita tidak pernah merasakan ia satu dosa kerana kejahilan kita. Maka, matilah kita di dalam keadaan Murtad dan  dosa.

15.  Maka, berbahagialah apabila seseorang ustaz menegur perbuatan kita yang salah. Dan sebenarnya, haqiqat teguran itu juga datang dari Allah kepada kita.

16.  Tidakkah kamu semua wahai pembaca budiman, pernah membaca tentang Hadis Nabi saw yang tersebut di dalam Kitab Hasyiah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Ali As-Syinwani ‘Ala Mukhtasar Ibni Abi Jamrah Lil Bukhari, bagi Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Ali As-Syinwani, m/s 62-63, Hadis Nabi saw yang ke-46.



Mengenai Teguran Rasululah saw kepada Ummatnya yang tidak menjaga Tuma’ninah di dalam Sembahyangnya. Adakah Nabi saw itu seorang manusia yang suka mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain?

- Hadis 42 – Daripada Abi Hurairah ra :

Bahawasanya Nabi saw masuk ia ke Masjid. Maka, masuk pula seorang lelaki. Lalu, bersembahyang ia kemudian datang ia. Maka, memberi salam ia di atas Nabi saw. Maka, membalas oleh Nabi saw di atasnya akan salam.

Maka, lalu bersabda Nabi saw,

“Patah baliklah engkau. Maka, sembahyanglah engkau lagi. Maka, sesungguhnya engkau tidak bersembahyang.”

(Iaitu, tiada sah sembahyang engkau. – Hasyiah Asy-Syaikh Muhammad ‘Ali Asy-Syafieyy Asy-Syinwaniyy, m/s 62, baris 9 dari atas.)

            Maka, lalu ia bersembahyang lagi. Kemudian, datang lagi ia. Maka, memberi salam di atas Nabi saw. Maka, lalu bersabda Nabi saw lagi, 
 
“Patah baliklah engkau. Maka, sembahyanglah engkau lagi. Maka, sesungguhnya engkau tidak bersembahyang.”

Nabi saw ulang suruhan ini sebanyak 3 kali.

( Berkata Al-Barmawiyy : Dan, bermula dia itu yakni suruhan mengulangi sebanyak 3 kali itu berta’alluq atau berhubung dengan masalah mengulang lagi sembahyang. – Hasyiah Asy-Syaikh Muhammad ‘Ali Asy-Syafieyy Asy-Syinwaniyy, m/s 62, baris 15 dari bawah.)

Maka, lalu berkata orang itu,


“Demi Allah Zat yang telah membangkitkan akan Engkau dengan sebenarnya sebagai Nabi. Maka, tiadalah aku dapat memperelokkan lagi akan selain darinya (cara sembahyang yang telah aku kerjakan. – Pent.) Maka, ajarkanlah oleh mu akan daku.”

Bersabda Nabi saw, 

“Apabila engkau berdiri pada sembahyang, maka bertakbirlah oleh mu. Kemudian, bacalah olehmu akan barang yang mudah serta engkau daripada Al-Quran.

( Dan perkara yang mudah bagi serta ini lelaki, iaitu Surah Al-Fatihah. Dan, dia itu, yakni Surah Al-Fatihah memanglah mudah bagi tiap-tiap seseorang. – Hasyiah Asy-Syaikh Muhammad ‘Ali Asy-Syafieyy Asy-Syinwaniyy, m/s 62, baris 3 dari bawah.)

Kemudian, ruku’ lah engkau hingga bertuma’ninah engkau sedangkan hal keadaan engkau itu ruku’. Kemudian, bangkitlah engkau hingga beriktidal engkau sedangkan hal keadaan engkau itu berdiri tegak.

( Iaitu, ruku’ dan diam bertuma’ninah di dalam ruku’. Kemudian, berdiri iktidal dan diam bertuma’ninah ketika iktidal. – Pent.)


Kemudian, sujudlah engkau hingga bertuma’ninah engkau sedangkan hal keadaan engkau itu sujud. Kemudian, bangkitlah engkau hingga bertuma’ninah engkau sedangkan hal keadaan engkau itu duduk.

( Iaitu, sujud dan diam bertuma’ninah di dalam sujud. Kemudian, duduk dan diam bertuma’ninah ketika duduk. – Pent.)


Kemudian, sujudlah engkau hingga bertuma’ninah engkau sedangkan hal keadaan engkau itu sujud. Kemudian, perbuatlah oleh mu seperti yang demikian itu dalam sembahyang engkau semuanya.

( Iaitu, sama ada sembahyang itu fardhu atau sunat. Dan, bermula ini Hadis telah menyebut akan dia oleh Al-Bukhariyy pada ‘Bab Perintah Nabi saw kepada orang yang tidak menyempurnakan Ruku’nya’ supaya mengulangi sembahyang lagi. – Hasyiah Asy-Syaikh Muhammad ‘Ali Asy-Syafieyy Asy-Syinwaniyy, m/s 63, baris 8 dari atas.)
.........................................

17.  Dapatlah difahami di sini, bahawa Nabi saw pun menegur ummatnya yang salah di dalam Sembahyang. Malah, Nabi saw juga menyuruh orang ini kembali bersembahyang semula sehingga 3 kali kesemuanya. Kemudian, barulah dikhabarkan kesalahannya kerana tidak menjaga Tuma’ninah.

18.  Bagaimana boleh timbul di sisi orang Tabligh yang melarang manusia menegur kesalahan yang dilakukan oleh mereka? Adakah mereka ini manusia yang tidak boleh lagi ditegur? 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

19.  Para pembaca yang cintakan Allah! Marilah kita sama-sama mendengar lagi, dengan apa yang disampaikan oleh Ulama’ dan Fuqaha’ mengenai Hadis di atas.

20.  Tersebut di dalam Kitab Hasyiah Asy-Syaikh Muhammad ‘Ali Asy-Syafieyy Asy-Syinwaniyy, m/s 62, baris 10 dari atas.

- Telah berkata Qadi ‘Iyad,

“Pada ini Hadis, bahawasanya perbuatan-perbuatan si Jahil dalam beribadah di atas ketiadaan ilmu, tidaklah memadai atau sah.
Dan, dia itu dibinakan di atas bahawasanya maksud dengan penafian pada ‘Hadis Si Perosak Sembahyangnya’ itu sebagai penafian sahnya sembahyang. Dan, dia itulah yang zahir.(Nyata).”
…………………….

21.  Apa yang dapat dipelajari dari perkara ini ialah, jika sembahyang kita itu tidak dengan berlandaskan Ilmu Agama. Maka, sembahyang kita itu tidak sah. Dan, sembahyang kita tetap tidak bernilai apa-apa pun di sisi Allah.

22.  Belajarlah Ilmu Fiqh dari Kitab-kitab Muktabar sahabat-sahabat ku! Mudah-mudahan kita selamat dari di azab di akhirat kelak. Apa yang sangat di takuti ialah, kita seolah-olah telah bersembahyang. Tetapi, tidak diterima sembahyang kita kerana tidak menjaga Tuma’ninah.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

23.  Dan, marilah kita melihat lagi akan teguran Sahabat Nabi saw kepada sahabatnya yang lain mengenai kepentingan menjaga Tuma’ninah di dalam Sembahyang.

24.  Tersebut di dalam Kitab Hayatus Sahabah (Kitab ‘Arab), bagi Asy-Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Juzu’ ke-3, m/s 263-264.   


Pengajaran Huzaifah terhadap seorang lelaki yang tidak menjaga Rukun-rukun Sembahyangnya.

- Telah mengeluarkan oleh Abdur Razaq, dan Ibnu Abi Syaibah, dan Bukhariyy, dan Nasa’i, daripada Zaid bin Wahab berkatalah ia,

Telah masuk oleh Huzaifah ra ke dalam Masjid. Maka, dia mendapati ada seorang lelaki sedang mengerjakan sembahyang, tetapi lelaki itu tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.

( Iaitu, lelaki ini tidak menjaga Tuma’ninah. Lelaki ini rukuk, tetapi sebelum dia betul-betul diam bertuma’ninah di dalam rukuk, dia telah bangun ke pergerakan yang lain. Begitu juga dengan sujudnya. Sebelum dia betul-betul diam bertuma’ninah di dalam sujudnya, dia telah ke pergerakan yang lainnya. – Pent.)

Maka, apakala selesai lelaki itu bersembahyang, lalu menegurlah oleh Huzaifah ra akan lelaki itu, 
“Sejak berapa lamakah engkau bersembahyang seperti ini?”

Lalu, lelaki itu menjawab,

“Sejak 40 tahun yang lalu.”

Lalu, berkata lagi Huzaifah ra,

“Kalau begitu engkau tidak bersembahyang selama 40 tahun. Dan, kalaulah engkau mati dengan keadaan seperti ini rupa sembahyang engkau. Maka, engkau mati bukan di atas agama yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw.”

Setelah itu, Huzaifah ra mengajar lelaki itu cara sembahyang yang betul. Lalu ia berkata,

“Bahawasanya seseorang itu boleh bersembahyang dengan cepat tetapi ia mesti menyempurnakan rukuk dan sujud.” ”
........................................

25.  Dapatlah diketahui di sini, bahawa Sahabat Nabi saw pun menegur orang lain untuk membetulkan apa yang salah. Dan, perkara ini bukan sebagai apa yang difitnahkan oleh orang-orang Tabligh sebagai mencari kesalahan dan keburukan orang lain.

26.  Wahai para pembaca yang insaf!!! Bukalah hati kita, bukalah hati kita untuk menerima teguran!!! Dan, jangan jadikan diri kita sebagai orang yang tidak boleh menerima teguran seperti kebanyakan orang-orang Tabligh.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

27.  Saudara-saudara pembaca sekalian! Kami ingin mengajak saudara-saudara sekalian menatap dan memahami Kitab Panduan Mengajar Bagi Guru-guru Sekolah Agama Kerajaan Negeri Johor yang telah diguna pakai sekian lamanya dari Tarikh 19 Mac 1939 M.

28.  Kami paparkan Khutbah Kitab ini, dan kami paparkan juga pada Kitab ini bab yang menyatakan Kaifiat Guru Agama Mengajar serta memantau perlakuan-perlakuan sembahyang murid-murid Sekolah Agama Kerajaan Negeri Johor, pada halaman 28.

 
Halaman ke-3


Halaman ke-28

- (Ketujuh) Guru-guru hendaklah cukup jaga pada masa Iktidal, kerana selalu murid-murid lalai akan Tuma’ninah padanya. Kerana, banyak kali terjumpa sedang badannya lagi bergerak, maka ia telah turun kepada sujud.

( Sedangkan tangannya masih dihayun-hayunkan, dan tidak dihentikan dengan tetap. Lalu, terus ke perbuatan sujud. Malah, ada yang tidak sempat berdiri tegak, sudah meluru ke sujud. Maka, tidak diterima sembahyang seperti ini walaupun dia sembahyang seumur hidupnya. – Pent.)

Dan, hendaklah diingatkan dia yaitu, adalah kehendak Tuma’ninah itu ialah memberhentikan segala anggota, kadar masa membaca Subhanallah memadai. 

( Sepatutnya seseorang itu mestilah melakukan Tuma’ninah dengan memberhentikan seluruh anggota badannya dengan diam dan tetap. Beku dari segala pergerakan anggota badan. Semua ini panjangnya dengan kadar masa menyebut Subhanallah. – Pent.)

            Dan lagi, pada tatkala ia sujud selalu ia tiada mendirikan dua kakinya. (Tiada mengadap jari kaki ke Qiblat). Dan, juga pada lelaki tiada merenggangkan dua sikunya dengan rusuknya, atau dua peha dengan perutnya.

            Pendeknya, pada tiap-tiap sesuatu dari gerak geri sembahyang itu wajib dibetulkan pada masa itu jua jika didapati ia tiada memperbuat bagaimana yang disuruh. Yaitu, sama ada pada perkara yang berkenaan yang dibaca atau yang dilakukan. Demikianlah dijaga dengan cermat hingga selesai sembahyang.
................................

29.  Erti Tuma’ninah itu ialah, diam pergerakan badan kemudian daripada bergerak, dengan sekira-kira tetap diam seluruh anggota badan pada tempat asalnya, dengan sekadar lafaz Subhanallah. 
30.  Untuk perincian hujjah kami ini, marilah kita sama-sama membuka Kitab Kasyifatus Saja Syarah ‘Ala Safinatin Naja, bagi Asy-Syaikh Muhammad Nawawi Ibnu Umar, Al-Banteni At-Tanari, m/s 66, baris 9 dari bawah. 

-........Kemudian, menerangkan oleh Tuan Pengarang (Matan Safinatun Naja) akan rupa bentuk Tuma’ninah. Maka berkatalah ia,

(Bermula Tuma’ninah itu ialah diam berhenti setelah bergerak) Iaitu, diam berhentinya segala anggota selepas pergerakan segala anggota itu.

Sama ada daripada pergerakan tunduk, dan pergerakan bangkit. Dan, kalau lah dikatakan Tuma’ninah itu ialah berhenti diamnya anggota badan di antara dua pergerakan, nescaya adalah ia lebih terang lagi.


(Dengan sekira-kira tetap diam oleh segala anggota badan pada tampatnya yang asal dengan kadar Subhanallah) Iaitu, dengan sekadar lafaz dengan demikian Tasbih itu.
.......................................

31.Peringatan! Sampaikanlah peringatan Nabi saw ini (mengenai Tuma’ninah ini) kepada seluruh ahli keluarga kita. Mudah-mudahan dengan penerangan Tuma’ninah ini, dapatlah kita semua terselamat dari sifat kejahilan yang akan menyebabkan kita di azab di akhirat kelak kerana tidak menjaga Tuma’ninah di dalam sembahyang.

32.  Dan, telah berkata sebahagian orang-orang Tabligh sebagai memberi alasan untuk tidak mengambil berat mengenai Ilmu Islam ini,

“Kita jangan bincang sangat pasal Ilmu Agama macam ini. Yang penting kita buat dakwah je kerana ramai orang lagi yang tak sembahyang. Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah pasti terima kita punya amalan. Janji kita buat dakwah. Allah akan ampun segala kesalahan kita.”


33.  Para pembaca yang budiman, janganlah kita memberikan alasan yang lain sebagai hujjah untuk tidak mengambil tahu Ilmu Fiqh. Dan lagi, di sini kami ingin memperingatkan kepada kamu (orang-orang Tabligh) bahawa, Allah Taala itu bukan sahaja bernama Ar-Rahman (Maha Pemurah) dan Ar-Rahim (Maha Pengasih).

34.  Tetapi, Allah Taala juga bernama Al-Jabbar (Yang Memaksa/Menggagahi Hambanya), Al-Muntaqim (Yang sangat membalas), Al-Qahhar (Sangat Gagah Perkasa), Syadidul ‘Iqab (Sangat Keras Pembalasannya) dan lain-lain lagi. Oleh itu, janganlah memandang ringan akan apa yang di syarakkan oleh-Nya.

35.  Wajib belajar Nama-nama Allah dan Sifat-sifat Allah supaya kita mencapai Ma’rifatullah. (Mengenal Allah dengan cara yang betul, dan bukan seperti fikir-fikir agama seperti orang Tabligh.)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

36.  Di sini, kami ingin menyarankan kepada Para Karkun Tabligh supaya dapat pula menyarankan kepada Ustaz-ustaz Tabligh di Madrasah-madrasah Tabligh di seluruh Malaysia, supaya turut mengguna pakai Kitab Panduan Mengajar Bagi Guru-guru Sekolah Agama Kerajaan Negeri Johor yang kami nyatakan bagi memantapkan lagi mutu pengajaran mereka.

37.  Pengalaman kami sendiri apabila hadir di markaz-markaz Tabligh yang ada madrasahnya sekali, apabila kami melihat para pelajar Madrasah Tabligh tersebut semasa mengerjakan sembahyang amat menyedihkan, kerana perlakuan sembahyang mereka simpang siur seolah-olah mereka bukan pelajar Madrasah. Sila ambil perhatian terhadap saranan kami ini.

38.  Akibatnya, apabila kami menegur karkun-karkun tentang peri salah perlakuan sembahyang yang mereka lakukan, segera mereka melenting lalu berkata,

“Ahh... Di Madrasah-madrasah Tabligh yang besar lagi gagah pun tiada orang yang jaga Tuma’ninah. Ustaz yang hebat-hebat pun biasa je sembahyang. Sama je macam Karkun. Tiada cerita pun tentang batal sembahyang yang tiada Tuma’ninah.

Pelajar-pelajar yang ‘Alim di Madrasah-madrasah Tabligh sama sahaja sembahyang macam Karkun. Tidak ada pun sangat-sangat menjaga Tuma’ninah. Kami ikutlah macam mereka tu kerana mereka banyak korban. Dah tentu lebih faham agama dan cara sembahyang yang paling betul. Apa yang kamu nak sibuk-sibuk sangat?

Yang penting dakwah. Banyak lagi Ummat menderita. Anta ni banyakkan sibuk dengan benda-benda yang remeh-temeh. Baghdad tu jatuh pasal ‘Ulama-‘ulama hanya sibuk dengan Ilmu sahaja. Langsung tak nak buat dakwah (Cara Tabligh). Yang penting keluar Tabligh. Semua perkara beres.” 

39.  Bagaimana pendapat para pembaca sekalian? Setujukah anda dengan pernyataan Karkun (orang-orang Tabligh) seperti ini? Adakah dengan menyampaikan hukum Fiqh dari Nabi saw (Mengenai Tuma’ninah) itu suatu perkara yang remeh-temeh?

40.  Aku berlindung dengan Allah daripada jahil tentang Ilmu Agama!!!